Bismillahir Rohmaanir Rohiim

Di masjid Al Huda Nirbitan, peninggalan alm KH Abdusomad, Allohummaghfirlahu Warhamhu, pernah diadakan ngaji kitab Al Muwatho' karya Imam Malik rahimalloh saat cahpondokkan masih kecil, antara SD hingga kelas 2 SMA  Al Islam 1 Solo tiap malam jumat. Pengajian di pendopo rumah beliau, cah cah pondok yang tinggal di Nirbitan hingga 1987 so pasti mengenal beliau alm. Saat kelas 3 SMA, beliau sudah taraf sakit sakitan yang interval nya berubah ubah. Sehat sebentar lalu sakit lagi, sehat lagi hingga di tahun 1987 beliau wafat. Al Islam selalu melekat pada nama beliau disamping nama alm KH Ghozali Begalon dan H. As'ad Kawatan yang dikenal sebagai pengusaha di zamannya. 
barokallohu lahu radio mass fm

Sebagai keluarga (cucu) yang pernah alami pendidikan dengan beliau langsung di pondok Nirbitan dan rumah nya, rasanya dengan potensi yang ada ingin meneruskan apa yang pernah beliau rintis diantaranya materi riyadus salihin yang kala itu diampu oleh alm KH Musthofa (putra beliau yang pertama) dan kitab kitab sebatas penulis mampu. Kadang membaca sahih Bukhori, tafsir Sofwatut Tafasir yang penyusunnya wafat belum lama di Makkah. Dan khusus bulan Muharrom ini karena ada peristiwa hijrah Makkah - Madinah, diadakan pembacaan Siroh Nabawi Nurul Yaqin Fii Shiroh Sayyidil Mursalin (Cahaya Keyakinan Dalam Perjalanan Rasululloh SAW). Insya Alloh 4 pertemuan atau habis Muharom ini finish. Ini sisi pertama mengisi bulan mulia (harom yang artinya ada 2 yang kontra, satu suci yang satunya najis). Babi harom, artinya najis. Masjidil Harom, masjid yang suci bukan najis. Lihat konteks bahasa atau kata kata nya.

Mengapa penulis turunkan tulisan dengan judul diatas ?

Ada kejadian di sebuah pulau di Indonesia (sumatera) tepatnya propinsi Lampung, mantan penguasa merah putih bapak JKW, saat diberi gelar dari konon kerajaan setempat (lampung) serta ada momen bagi bagi uang yang videonya tersebar di medsos. Penulis kemarin simak di media FB. Tentu sedekah atau amalan hasanah (baik) di bulan bulan harom (suci) akan dilipat gandakan, begitu juga jika berbuat dosa akan dilipatkan. Wallohu A'lam.

Yang menerima pembagian ini, sedikit banyak akan bisa bermanfaat besar atau kecil. Namun konon ada wilayah yang malah tidak jadi dikunjungi akhirnya marah marah dan membuang kupon penukaran pembagian entah sembako atau uang. Tentang niat yang memberi ? itu urusan yang punya hajat bail politis, murni, tendensius dll. Hanya Alloh SWT Yang Akan Menilai. Ini kejadian di tahun 2026 bertepatan tahun baru umat Islam 1448 H. Dan di bulan ini pula, umat Islam akan diingatkan akan kejadian Karbala, dimana syyidina Husein Bin Ali RA terbunuh oleh penguasa saat itu yakni Bani Umayyah yang pusat nya di Syam (sekitar Palestina Suriah) yang bernama Yazid Bin Muawiyah. Instruksi beliau dilaksanakan oleh pembantu atau gubernur di wilayah Irak (Kuffah dan Basroh) yang bernama Ubaidilah Bin Ziyad

Pembaca kami sarankan mendengarkan kajian dlm format audio untuk penjelasan secara detail. Penulis kebetulan setel radio MAS FM Sragen membahas ini dan langsung kami rekam mengingat ini langka yang disampaikan narasumber bergelar doktor. Dari dengar siaran yang sekali ini, kami anggap penting dan akhirnya terbit tulisan dengan tema di atas. Disini akan disampaikan globalnya saja, sementara penjelasannya silakan simak di link : INI (format audio atau mp3).

format view file rekaman dari archieve

Bila saat ini atau sejak bapak JKW menjadi penguasa, politik bagi bagi uang sangat kentara sekali bahkan bisa dikatakan vulgar. Tidak malu malu lagi termasuk di rumah mantan presiden ke-7 ini. Ternyata model demikian terjadi sebelum kejadian terbunuhnya sayyid Husein Bin Ali RA di Karbala. Penduduk Irak secara umum sangat mendukung Imam Ali RA saat terjadi selisih paham baik dengan Aisyah RA (akhirnya ada perang Jamal) maupun dengan Muawiyah RA (ada perang Shiffin).  Mayoritas bahkan totalitas Irak loyalis keluarga Imam Ali RA termasuk putranya (Hasan Bin Ali RA dan Husein Bin Ali RA). 

Saat Bani Umayyah berkuasa, karena wilayah menganut khilafah maka Irak dan sekitar dibawah kekuasaan Syam sebagai ibukota utama. Muawiyah RA angkat putranya Yazid Bin Muawiyah yang masih terlalu muda, dan sangat kontras tabiatnya dengan syariat Islam. Mudah dan suka pamer saat langgar syariat seperti suka miras dll. Ahlul Bait dan keluarga tidak akui kekuasaan Yazid ini dan menjadi oposisi yang dianggap berbahaya bagi Bani Umayyah. Irak sebagai daerah kekuasaan Syam tunduk dengan khalifah muda ini, dan karena tetap tunduk dengan khalifah akhirnya gubernur Irak menggunakan politik bagi bagi uang, dalam jumlah cukup besar. Yakni sekitar 3000 dinar. Satu dinar jika diasumsi 4,25 gram emas, satu gram anggap saja 1.000.000, maka uang yang disebar atau bagi bagai setara 12 Milyar. Ini asumsi 1 gram = 1 juta, sedang saat ini 1 gram nya berapa, bisa dihitung khan ?.

siroh nurul yaqin di masjid al huda

Warga loyalis Imam Ali RA dan putranya di Irak, dengan adanya politik bagi bagi uang ini akhirnya bisa berbalik arah. Abstain dengan Imam Husein RA dan Imam Hasan RA, sehingga awal mula warga Irak minta Husein RA yang sedang di Makkah karena dikejar pasukan Yazid untuk datang ke Irak untuk diambil baiat. Ternyata......Dan Ternyata warga Irak sudah dibeli semua dengan uang milyaran yang dikeluarkan gubernur setempat. And soo, saat Imam Husein RA berangkat ke Irak (pikirannya ada dukungan total), realitasnya sampai di wilayah Irak sambutannya dingin semua. Mereka berkhianat dan tunduk dengan gubernur yang diangkat Yazid yang di Syam. Sementara gubernur Irak yang baru meski dulu pendukung fanatik Imam Ali RA, akhirnya juga berubah. Bahkan siap dengan eksekusi mati tamu tamu yang akan datang yang dipimpin Imam Husein Bin Ali RA.

Singkatnya, Imam Husein RA ketika di Karbala untuk sekedar ambil air minum saja dihalang halangi pasukan Ubaidilah Bin Ziyad sementara banyak anak anak yang merupakan  cicit cicit rasululloh SAW yang kehausan plus kelaparan dibiarkan merana. Rombongan Imam Husein RA lk 70 an akhirnya dikepung ribuan pasukan gubernur Irak, sementara warga pendukung awalnya sudah khianat semua. Imam Husein RA dibiarkan berjuang sendirian sebatas rombongan, dan dengan mudahnya terjadilah peristiwa atau kejadian Karbala yang muslimin kenal saat ini. Kejadiannya sangat miris dan sudah jadi torehan sejarah kelam dunia Islam.

Sekali lagi detail asbab bagimana bagi bagi uang ini berlangsung, simak audio yang penulis bagikan di atas agar tak terjadi salah paham, yang berakibat paham bisa fatal di kemudian hari.

Wallohu A'lam Bis Showaab