Dari Nirbitan Solo Menoreh Sejarah, biar adil dengan tema sebelumnya yakni kawasan Jati Nganjuk. Sebuah nama desa. wilayah kadang bernisbat pada khas nya daerah tsb sebut saja Dodol Garut, Bakpia Pathuk dll. Di Nirbitan ada yang khas yakni Masjid Nirbitan (tertua di kawasan Tipes) serta pondok Nirbitan. Tulisan akhir sebelumnya singgung alm KH Mustain Romly dengan tariqoh nya, atasan atau jalur atas Nirbitan pun hampir sama. Meski alm KH Abdusomad lebih meilih jalur di tengah (Al Islam) sebagai wujud alternatif saat itu antara NU dan MD terjadi gesekan luar biasa dan cukup tajam. Nirbitan bukanlah cikal bakal jika tak ada Jamsaren, dan Jamsaren masyhur karena alm KH Idris yang terkenal Mursyid Tariqoh Sadziliyah. 

dari kiri kyai :mursidi, abdusomad, bilal kauman

Bulan kemarin teman SMP/ SMA kami Masyai Ruba'i adakan haul untuk Mursyid Solo Raya di kediamannya yang berada di  komplek masjid dan kawasan UD. Hikmah, toko bangunan genteng dan kubah Kartosuro. Sayang sekali Gus Wafi bin Maemun tak hadir, karena ada kepentingan mendadak. Acara ini ditausiahi oleh seorang habib muda dan ditutup doa oleh habib Umar Bin Husein Asegaf, habib senior di kalangan habaib Solo karena kedalaman ilmu dien nya. Sisi makam sebelah utara alm KH Idris komplek Makam Haji, dipasang nisan baru oleh keluarga Jamsaren Ibu Kusniyah ditemani Masyai Ruba'i setahun yang lalu. Meski Bu Kus aktif di lingkup UMS (Muhamadiyah) namun agar jadi pertanda para murid murid tariqoh, beliau tak keberatan untuk dipasang nisan lengkap dengan jalur tariqoh sadzily (yakni sanad mursyid mursyid) hingga sayyidina Husein Bin Ali RA. Pernah kami tulis di blog ini untuk alm KH Idris diantaranya di portal ini dan ini juga yang masih berkaitan.

Nampaknya kemursyidan tak menurun ke generasi berikut, karena menantunya yakni alm KH Abu Amar memilih jalur agar moderat. Maklum KH Idris menjadi pembantu gerilya perang Diponegoro hingga vakum ponpes nya cukup lama. Bisa jadi Abu Amar lebih milih mendekati kekuasaan dan kraton agar ada pelindung minimal kelangsungan ponpes nya. Hingga beliau mendapat Gelar Kehormatan Raden dari Kraton Solo.  Dari Abu Amar inilah muncul nama Abdusomad karena dipersunting Mbah Kyai untuk dijodohkan dg putrinya. Yang menjadi catatan, istri kedua Abu Amar banyak menurunkan birokrat spt alm KH Jamaludin (Hakim PA) dll, istri ke-3 muncul teknokrat spt dokter umum dan spesialis dll (di Jawa Timur) sebut saja Dokter Jayyid di Surabaya era 90 an cukup dikenal kalangan medis disana.

makam kyai idris jamsaren plus sanad guru

Jika anda sempat ngaji Sahih Bukhory (kitab terbaik sesudah Al Quran) , akan ada bab bab Manaqib (sejarah, kisah perjalanan seseorang tokoh dll). kalangan Nahdiyyin menakomodir dalam acara Manaqiban, membaca sejarah, siroh tokoh siapapun dll dalam bentuk nadhom, pujian atau syair syair. Membaca sejarah, kisah org org terdahulu karena kesalihannya, juga kami menuliskan kisah pendahulu (cuma bentuk tulisan) apakah sebuah kebid'ahan ?. jika bid'ah pun masuk yang baik (hasanah) karena jika dibaca akan bermanfaat buat generasi berikutnya yang era saat saat ini sudah mulai ada gejala melupakannya pelan pelan tapi pasti. Insya Alloh mencintai para pendahulu akan menjadi mantik, peluru untuk juga mencitai salafus salih hingga sahabat sahabat Nabi Muhammad SAW karena jalur keilmuwannya akan estafet turun temurun hingga muncul nya imam akhir zaman Al Mahdi yang jalurnya pun dari Waladi Fatimata (turunan dari jalur putri nabi SAW yakni Fatimah RA).

Dari ke-17 putra puti alm KH Abdusomad, saat ini yang masih ada dan sugeng (hidup) tinggal 2 putra,  yakni KH Anwar Soleh mukim di komplek Nirbitan serta Widadi SH di Semarang. Keduanya pensiunan katakalanlah mantan birokrat. Satu di pemerintahan (Semarang) satunya bidang kegamaan (hakim PA). Keduanya lebih konsen dengan Muhamadiyah sementara yang jalur spt ayahandanya sebut saja alm KH Mustofa (Guru segala bidang keislaman spt : tarih tasyri', hadist, mustolah hadist, tafsir, balaghoh dll). Penulis sendiri sempat menjadi siswa saat di MA SMA Al Islam dan di rumah komplek Nirbitan beliau alm KH Mustofa mengampu materi Riyadus Salihin di ponpes Nirbitan. Yang penulis ingat sempat ngaji hingga ngaji hadis ke-300 an hingga beliau wafat.

habib syeh pun sempat sekolah di Al Islam

Ibunda alm, mengajar hadist untuk kelas-1 SMP Al Islam 1 Begalon sambil punya usaha kecil an hingga menjangkau luar kota terutama saudara saudara di Jawa Timur. Alhamdulillah barokahnya dipegang langsung pelajaran diniyah di rumah oleh ibunda dan alm kakek penulis bisa ikuti majelis nya ust Rahmad Sukur alm di Gumuk untuk kajian Sahih Bukhory. Beliau ust Rahmad alm adalah murid di SMP Al islam 1 juga era 77 an kalau tidak salah. Dari beliaulah info dunia dll bisa didapat saat ngaji Bukhory di masjid Al Abror (Gumuk Solo). Tudingan syiah terhadap jamaah Gumuk, sebenarnya kalau diamati hanyalah permainan semata agar ukhuwah di Solo kendor, dan akhirnya sejak ada perang Iran vs USA Zionis akhirnya tuduhan itu mentah semua. Kenapa ?, karena Iran lah yang satunya paling vokal bela Palestina, sementara yang teriak teriak paling ahlus sunah justru ambigu atau masih bela Saudi yang nyata nyata bela Zionis dan USA serta sekutunya.

Saat ponpes Nirbitan diasuh alm Kakek dan Pak Dhe nuansa tradisonal pondok memang tercipta. Hubungan serta tawadhu' antara siswa/ cahpondok dengan pengasuh sangat efektif sekali. Barang kali inilah diantara tinggalan yang bisa bentuk karakter siapapun yang pernah tinggal di ponpes Nirbitan akan mengharhai dan hormat dengan para guru guru hingga pensiun sekalipun. Pengurus yang terdiri dari siswa (cahpondok) secara langsung dan dibina langsung oleh pengasuh. Hingga semua santri yang pernah tinggal baik SMP atau SMA akan terkesan dengan beliau berdua. Potensi cahpondok juga tidak dibatasai, diluar ngaji yang rutin seperti olah raga dan seni. Sesekali tiap 2 mingguan, para santri main bola di lapangan Tipes sebab mereka tak pulang kampung disebabkan malam nya ada acara khitobah (latihan ceramah) yang merupakan kegiatan wajib 2 mingguan. 

olah raga pingpong dan majelis cerminan saat kecil

Penulis sendiri sempat latihan pingpong dengan memakai bekas meja makan dan dikaseh nett seadanya asal bisa main. Dan alhamdulillah, hingga masuk usia veteran ini masih bisa andil di turnamen turnamen Solo Raya hingga Jogja dengan skill klas kebonan (bola bola natural non  sekolahan). Yang menonjol lainnya, sistem pengajaran alm Kakek dengan kitab secara langsung. Bedanya satu arah, beliau membacakan dan menuliskan untuk disalin via papan tulis. Maklum saat itu belum banyak kitab sederhana dijual belikan. Sebut saja kitab Tajwid yang dipakai alm KH Abdusomad tulisan beliau sendiri rangkuman dr kitab kitab lain. Penulis sempat rasakan sulit dan mudahnya belajar tajwid lebih kurang 5-6 tahunan. Insya Alloh pelajarannya masih bisa diingat hingga detik ini, karena metodenya memang teori dan praktek langsung dari Beliau. Salah langsung dikoreksi, jika Benar juga akan diberitahu hingga kami bisa paham dalam hal tulisan dan ucapannya.

khozin santri nirbitan jd doktor & dosen di malaysia

Dengan ijin nya juga, penulis sempat praktek dengan ikuti belajar Qiroah di Masjid Nur Rohmah Kartotiasan asuhan Mas Arifin Banjar (mantan Qori dr Banjar Kalsel) sekarang mukim di Jombang. Juga pada Qori' wanita ternama di Solo Ibu Muslimah Banjar, sekarang juga masih sugeng (hidup) namun sudah mulai sakit sakitan. Barokah diijinkannya ikut Qiroah akhirnya bisa bersanding dengan Qori' Qori' ternama Solo, sebut saja Mas Imron (ayahnya owner toko sepatu di singosaren) yang saat itu juga jadi model foto kalangan sekolah menengah , serta M Jamil (Darus Salam) yang skr masih jd imam sebulan sekali di Masjid Fatimah Danar Hadi. Imron bersuara medium, khas pria umumnya  sementara Jamil bersuara tinggi melengking hingga spt suara wanita.