Acara takziyah istri sdr kami Masrukin Jati Katerban Nganjuk, menjadi inspirasi perjalanan panjang petilasan almarhumah Ibunda kami (Ny Hj Umul Husna Kholil). Betapa tidak ?. Saat masih bocah menemani Ibunda alm ke Njati harus lewati jalan becek dengan dokar dan makan waktu lama dari perbatasan Kertosono-Nganjuk. Satu satunya kendaraan saat itu (th 80 an), belum lagi jika hujan bisa risiko terpelset masuk kali desa. Kemarin saat lewati jalan jalan dari Baron Pasar, Sambikenceng sudah aspal dan halus semua, layak pakai roda 2 hingga roda empat termasuk diantaranya truk sedang hingga besar. Acara utama memang difokuskan takziyah, yang mana suaminya Bp Rukin teman akrab saat bocah di kampung ayahanda alm (Ky. Kholil Soleh) yang penulis sendiri lupa, krn usia 1.5 th beliau wafat di Jombang sekitar th 1971 an.
Sepulang takziyah dari Nganjuk almarhumah Mustofiatin S.Ag, muncul ide membuat tulisan napak tilas ibunda. Bukan napak tilas biasa, namun sebuah perjalanan panjang dari kami yang tanpa ayah sejak kanak kanak hingga bisa mencurahkan di blog ini, agar jadi catatan (siroh) ala pribadi yang bisa jadi manfaat di kalangan keluarga Jawa Timur dan Jawa Tengah (keluarga ibu umumnya mukim di Jawa Tengah).
Allohummaghfirlaha Warhamha, demikian kami buka buat mengenang siroh (perjalanan) ibunda yang penuh suka duka dengan sodara dari ayah, kawan dagang, kawan ngobrol, kawan sekedar silaturahim (kenalan) tetangga lama selama beliau dikarunia 6 putra putri yang semuanya lahir di Nganjuk Jawa Timur. Betul betul kami seperti dan seakan mewajibkan musti bikin catatan penting dan bisa jadi tidak satu edisi. Ingatan kami seperti membedah isi flashdisk ke masa lampau yang indah penuh suka duka karena terinspirasi jalan jalan desa sekitar Njati Katerban yang sudah bagus bagus.
Sejak wafat ayahanda kami yang non pensiunan serta dihinggapi keniscayaan menghadapi masa depan putra putrinya dengan jalur bebas dari kebiasaan (secara umum ayah wafat dengan meninggalkan pensiunan atau sejenisnya). Selanjutnya Ibunda diminta oleh sang ayahnya alm KH Abdusomad Nirbitan untuk pulang ke Solo. Tentu dengan beban 6 anak yang masih kecil kecil, juga bukan perkara mudah terutama saudara saudara ibunda yang juga banyak. Alm KH Abdusomad miliki 17 putra/putri dengan 1 Ibu (orang orang dulu biasa) termasuk sahabat dekatnya alm Ky As'ad Kawatan teman di Jamsaren dengan 17 putra/putri dengan 1 ibu.
Dengan bawaan 6 anak dari luar kota, dan di lingkup Nirbitan ada juga warga pondok (cah pondok) meski belum banyak ditambah putra putri simbah yang 17 personal, dalam 1 kawasan menajemen nya tentu sangat komplek dan beresiko gesekan. Ibunda adalah putri ke-2 sedang putra paling besar alm KH A Mustofa, yang juga mengabdi lama di lingkungan Al Islam (baik di Tsanawiyah serta Aliyah) hingga kampus awal UNIS yang sekarang menjadi Institut Mambaul Ulum. Kami akan menguraikan berdasarkan tempat tempat dimana Ibunda alm dulu suka mampir, singgah, hingga menginap bahkan kadang dalam bulan ramadhan bisa sebulan full (saat kami masih sukanya belajar pingpong, bola dan layangan).
![]() |
| ibunda alm (umul husna kholil) duduk kebaya biru |
Desa Jati Katerban Nganjuk
Masuk wilayah Nganjuk, namun akses lebih enak dari Kertosono lebih kurang 10-12 km. Sekitar wilayah ini ada nama besar era Orba alm Harmoko Menpen asalnya dari Lengkong masih di kabupaten Nganjuk. Tempat inilah ayahanda berasal. Ortunya alm Hj Saleh dikenal sesepuh desa setempat, sementara kakeknya alm KH Syukur dikenal tokoh babad alas Njati, yang akhirnya dikenal dengan Mbah Njati karena dikejar Belanda dari Banten lari ke Jawa Timur. Tentang ini, kami agak kurang infonya. Mbah Haji Syukur punya 3 istri dengan 21 putra/ putri persis dengan simbah Jamsaren alm KH Abu Amar dengan 3 istri dan 21 putra/putri (hasil tirakat orang orang dulu kah ? Wallohu A'lam. Bagaimana desa tepencil ini (ayahanda alm) bisa ketemu ibunda alm yang dari kota Solo ?. Inilah yang menarik.....!!!. Awalnya ayahanda alm mondok di Tebuireng asuhan langsung Hadratus Syeh Pendiri NU selama lk 10 th. Karena hubungan dengan Kyai cukup dekat dari bukin kopi hingga suka mijitin, oleh kawannya disarankan untuk hijrah (pindah). Dipilihlah Termas Pacitan Jawa Timur bagia selatan, yang masyhur dengan nama Mahfud At Tarmisy (pernah menjadi guru besar di Makkah). Penulis pun pernah kunjungi ponpes ini saat masih aktiv buka stand acara CB disana, pulangnya mampir di ponpes tsb dan ditemui menantu cucu sebagai pengasuh.
inzet foto : alm Ky Kholid (adik alm Ky Kholil, alm Muhsin, Muhabun ketua Yayasan As Soleh saat ini). Belakang Lik Sajim, ayah Masrukin Njati
![]() |
| kluarga besar Njati hadir walimahan penulis di jogja |
Cerita ibunda alm, ayah bermimpi untuk siap berjodoh dengan putri, namun putri nya kok dari Solo. Dan saat itu nama Jamsaren sedang kondang kondangnya nama punya hubungan dekat dengan Termas, akhirnya sambut gayung bertepuk pula. Ayahanda dijodohkan dengan ibunda yang masih cucu alm KH Abu Amar dari Ibu-1. Dari Ibu-1 ini Ky Abu Amar menurunkan beberapa ulama/ kyai di Solo diantaranya : alm KH Bilal Kauman, alm KH Ali Darokah Jamsaren, alm KH Arkanudin Masruri, serta paling kecil nenek kami di Nirbitan (alm Umul Kirom). Satu satunya putri dan ragil (paling kecil). Nenek kami dijodohkan dengan alm KH Abdusomad, murid Ky Abu Amar yang bisa jadi nama Abdusomad ini diantara santri kinasihnya juga.
Merasa cukup ilmu nyantri, ayahanda mencoba mendirikan pondok mini di Njati Katerban dengan keterbatasan sarana dan prasarana. Sempat nyantri namun kurang 2 th ada;ah alm KH Mustain Romli Peterongan Jombang. Nama Romli cukup masyhur di Jawa Timur terutama di ponpes moderen Zainul Hasan Genggong Probolinggo. Di ponpes ini gedung monumental di pakat tertulis Damanhuri Romly (penulis pernah juga kesana saat buka stand acara sepeda onthel diadakan ponpes ybs krn pengasuk suka sepeda lawas). Tak sengaja mendapati gedung Damanhuri Romly dan setelah sempat silaturahim dengan keluarga besar pengasuh, memang benar Damanhuri Romli saudara Mustain Romli. Kyai Mustain Romly pengasuh dan Mursid Tariqoh Qadiriyah Wa Naqsabandiyah dan beliau sesekali dikunjungi penguasa Orba sebagai Guru Spiritual wilayah Jombang. Kami bersama ibunda alm pernah kesana kalau tak salah klas 4/5 Sekolah Dasar sesaat ky Mustain usai kecelakaan dan beliau bilang Pak Harto belum lama dari sini mampir setelah acara di Surabaya,
![]() |
| beliau pernah jadi murid alm kyai kholil soleh njati |
Dan di Jombang inilah ayahanda wafat setelah diberi tempat mengajar oleh Ky Mustain saat mimpin Undar (Universitas Darul Ulum) di awal awal berdiri dan Ky Mustain Romly sebagi rektor nya. Makam ayahanda Ky Kholil Soleh di Kauman Kidul, sebelah barat stasiun Jombang.
Di Njati inilah kemajemukan saudara saudara ayahanda. Ada yang menjadi pimpinan LDII (Darul Hadist saat itu) yang ternyata pendirinya alm Nur Hasan Ubaidah adalah alumni Jamsaren sebelum ke Timur Tengah. Mungkin saat ini cucu dari Njati ada jga menjadi pimpinan LDII di Ujung Pandang (Makasar) yakni Bp Arif Nurhadi, alumni Teknik Sipil UNS Surakarta. Ada juga yang menjadi anggota Muhamadiyah (Kertosono), Nganjuk, dan secara umum amaliyah keluarga besar Jawa Tmur lebih dekat kepada amaliyah NU.
BERSAMBUNG




3 Comments
#iraq, #argentina, all welcome
ReplyDelete#venezuela, welcome
ReplyDeleteAlhamdulillah, pagi ini bs temu cucu alm mbah arkanudin di belakang novotel solo
ReplyDeleteterimakasih sudah atensi