Hari ini Senin 5 Oktober 2026 usai mengikuti turnamen double (ganda) di PTM Kususma Colomadu (base camp nya) belakang Bulog kedatangan tamu dari Semarang. Mereka rombongan 1 mobil sedan SUV putih berplat H (Semarang). Masih keluarga dekat (jalur paman) yakni keluarga putra alm Ky Muhab Arifin. Bertamu di kediaman paman juga (samping rumah) yakni Bp KH. Anwar Sholeh datang pas usai dhuhur, Namanya datang dari jauh pasti ada keperluan dan kepentingan baik dunia, sosial dan silaturahim. Mereka tinggal sekitar Tugu Muda Semarang dan cahpondokkan pernah nginap lebih kurang 3 hari 3 malam selaku batas waktu bertamu. Tulisan ini berkaitan dengan pondok pesantren Nirbitan kedua kalinya setelah informasi reses ini.
![]() |
| makan malam di RM Kartini oleh Bp Muhdi Jakarta |
Usai Ashar keluarga dari Semarang pamitan dan sempat bersalaman dengan Mbak Upik, Mbak Avi dan Mas Ari. Sementara mobil sudah dinyalakan, kemungkinan yang bawa (driver) adalah Mas Ike (Iqbal). Saat di Semarang 3 hari, kami selalu diskusi ringan dari sembarang hal hingga pondok Nirbitan karena beliau selevel dengan kami yakni sebagai cucu simbah yang laki laki. Kebetulan yang berada di Semarang memang menjadi bagian atau bahkan insan penting di Muhamadiyah, mengingat alm bapak nya dulu adalah perintis dan tokoh Muhamadiyah era 80-an. Sementara yang di Solo, lekat dengan nama Al Islam baik sekolah saat SMP dan SMA. Sebagai orang yang pernah ngobrol hingga malam di Semarang kurun waktu awal tahun baru 2020 (enam tahun sudah) mustinya ingin jumpa dan tambah sedikit obrolan, ternyata hari ini entah beliau (Mas Ike) tidak sreg atau justru oleh tuan rumah tak memberikan akses ke kami, meskipun dulu saat anak anak adalah teman bermain yang seru juga saat saat duniah bocah era 80-an. Iniliha mungkin bagian politik sebuah ormas atau apapun, yakni menutup jalur jalur yang kira kira bisa mengganggu posisi atau disposisi seseorang, menurut kami looh.
![]() |
| 2018 awal vakum mulai dibicarakan |
Dua kali Bp Widadi (paman kami) ke rumah kami Nirbitan usai kunjungan kami di Semarang dengan waktu berbeda. Pertama kalau tak salah tahun 2022 sama sekali tidak singgung masalah pondok Nirbitan, bahkan menjelaskan tentang manajemen perilaku hingga karier seseorang. Semacam tutorial manajemen secara umum dalam rangka meraih entah cita cita dll. Kami belum kenal majleis masjid Riyadh. Kali kedua datang dengan tawaran yang cukup menarik, yakni jabatan sebgai kordinator Bidang Wakaf untuk Teknis Olahan Data dan beliau katakan akan investasi alat survey dan pemetaan semacam teodolit (ini memang bidang kami saat kuliah di Jogja dulu). Sayangnya tawaran jabatan dan kedudukan walaupun tak tinggi namun ini bergengsi di mata ormas sebesar Muhamadiyah. Sayangnya tawaran ini langsung kami tolak karena sudah kenal majelis Masjid Riyadh milik para habaib Solo yang mashur dengan Haul Solo nya akhir akahir ini.
Jika kami pindah Semarang, maka akan pisah dengan majelis Masjid Riyadh dan meninggalkan Nirbitan, ini menurut pemikiran kami. Ini terjadi kalau tak salah setahun kemudian atau th 2023. Entah kenapa jajaran paman (bp KH Anwar Soleh dan Bp H Widadi SH) akhrnya diam seribu bahasa terhadap warisan, peninggalan, petilasan dari alm sang kakek. Sementara kami memang masih kekeh dengan bahwa ponpes Nirbitan perlu dikelola sendiri dengan kurikulum seperti saat simbah alm kelola yakni : tahsin, tajwid, semakan, khitobah tiap 2 pekan sebagai latihan,. Riyadus Solihin dan Tafsir diesuaikan dengan kemampuan santri yang bersangkutan.
![]() |
| hasil keputusan tinggal kenangan |
Pengurus pondok inti yakni : Bp Muqorobin (mantu cucu) jalur almarhumah ibu Jamiatun dan Bp Dahroni (mantu cucu) jalur alm Kyai Mustofa sepertinya tak punya nyali buat adakan rapat, diskusi atau pembicaraan apapun dalam rangka mengisi kekosongan atau vakumnya ponpes Nirbitan. Yahh...dimaklumi mereka masih aktif baik di komunitas Guru SMP Al Islam dan Yayasan Al Islam dimana KH Anwar Sholeh selaku nahkota utamanya dibalik layar. Driver nya keluarga cucu Mbah As'ad dan Bp Zaki (Wawan) putra KH Anwar Sholeh.Kami selaku insan yang pernah jadi santri utama sekaligus cucu alm KH Abdusomad dari kecil bisa membaca tulisan Arab hingga beliau wafat th 1987 atau klas 3 SMA, dengan sabar menunggu respon dan aksinya karena merekalah pengurus intinya. Andainya kepengurusan ini diserahkan ke kami selaku cucu cucu, insya Alloh kami pun akan bergerak dengan menghidupan dan menghimpun semua cucu cucu yang mau.
Hanya saja mereka nampaknya kurang rela, jika kami tampil sejajar dengan mereka yakni para penentu kebijakan (0engurus) atau para paman paman tsb. Kenapa kami ngotot agar dikelola sendiri, karena sikonnya paman paman ini adalah orang prang penting di Muhamadiyah, sementara peninggalan almarhum simbah bernuansa ponpes tradisionil yang relatif dekat dengan kebiasaan kalangan sarungan (sebut saja demikian) atau non blok. Yakni ngaji kitab ada bahkan di rmh simbah pernah ada ngaji kitab Muwatho' nya Imam Malik. Kitab pertama kali dalam khazanah Islam di sejarah dunia Islam yang punya nilai amat tinggi disamping sahih Bukhori, Muslim dll. Semakkan santri ada juga, dan pendidikan adab akhlak juga ada. Sementara di Muhamadiyah yang mengaku berkemajuan, tentu tak akan sentuh sesuatu hal hal yang sangat basic atau mendasar ini atau bahkan konsentrasinya di permukaan saja (dohirnya).
Inilah kenapa ponpes Nirbitan masih vakum hingga saat ini. Bangunan dan halaman yang cukup untuk lebih kurang 50 santri atau kamar kamar yang dirintis simbah alm dulu seakan akan jadi bangunan mati, sementara papan nama Pondok Pesantren Nirbitan masih terpampang= dengan jelas di sisi barat masjid Al Huda.
Akhirnya tulisan ini kami terbitkan, karena tadi ketamuan A1 insan yang pernah ngobrol di Semarang (Mas Ike) tentang ponpes Nirbitan namun tak ada niat bertemu atau dihalangi untuk bertemu sementara kami juga menunggu jika disempatkan waktunya. Juga kemarin malam Sabtu di RM Kartini Bhayangkara untuk jamuan makan malam diselenggarakan oleh Bp Muhdi yang sekaligus alumni ponpes Nirbitan era kami (seangkatan) SMP 1 Al Islam Begalon.
Di jamuan makan malam yang dihadiri lebih kurang 30 an teman teman SMP Al Islam Begalon ini, beliau sempat menanyakan nasib daripada ponpes Nirbtan. Maklum lah beliau alami masa masa indah bersama alh KH Abdusomad serta putranya alm KH A Mustofa serta pengelolaan pondok dengan amat terbuka dan demokratis dimana ketua atau Lurah pondok diangkat dari santri santri yang bersangkutan. Dua (2) momen penting ini akhirnya kami terbitkan tulisan ini.



2 Comments
#argentina, #pakistan, all welcome
ReplyDelete#turkiye, #bangladesh, all welcome
ReplyDeleteterimakasih sudah atensi