Dari KH Sahroni Melintas Zaman Hingga Saat Ini sebagai tema yang cukup opsional sekali. Pernah dengar dari Dr Hasan Qudsi Tipes yang biasa mengisi tafsir di masjid Baitus Salam Tipes bahwa KH Sahroni Kudus telah tiada, Wafatnya ulama besar Kudus ini sudah agak lama yakni 2021 tepatnya 27 April, malam hari ini cahpondokkan ucapkan terima kasih syukron katsiron kepada beliau alm. Ketika alm ibunda Hj Umul Husna Kholil Solo masih ada kurang lebih 2 th beliau sebelum wafat tiba tiba kenal pengajian radio oleh alm KH Sahroni Ahmadi via radio Al Hidayah Solo (2016). Berarti tepatnya 8 th lalu ibunda wafat 27 Maret 2018, tanggal wafat sama dengan alm KH Sahroni. 10 tahun lebih termasuk interval waktu lebih dari cukup untuk berselancar dan searching di dunia online dan kami rasa saat ini adalah modul puncak karena beberapa nama yang beliau sebut sebut bisa didapat akhir akhir ini dengan informasi bertambah lengkap dan padat.

kyai sahroni sangat dialogis dalam siaran dakwahnya

Sebut saja seperti : KH R.Asnawi, Sunan Kudus, KH Bisri Musthofa,, KH Munawir Krapyak, KH Dzur Raihan dll.  Dikatakan modul puncak, sebab pengajian meski via radio bikin kangen dan rindu tersendiri. Sangat dipahami memang alm KH Sahroni mumpuni baik ilmu. tutur bahasa dan cara penyampaian sangat mengena kepada masyarakat, awam sekalipun. Akhirnya pengajian pengajiannya sempat kami rekam dan diputar berulang ulang. Waktu itu masih dengan Blackberry tanpa kartu, yang khusus file rekaman audi (mp3). Kami punya kawan saat kuliah di Jogja dulu dengan katakan bahwa alm Mbah Sahroni, samudraning ngelmu agomo ing Kudus. Bahkan saat aktif kelola usaha kaos dengan label zip production jogja, entah saat santai di base camp kami setelkan ceramah beliau, sehingga anak buah pada ikut dengarkan via MP3. Kerja dan kesibukan pun tak terasa dengan selingan ini. 

Allohummaghfielahu Warhamhu. Allohumma Amin.

Pemutaran di radio ini siarannya usai shubuh dan setiap hari meskipun tema temanya tidak berurutan. Beda dengan kajian tafsir oleh KH Imron Jamil Jombang yang akhirnya menggantikan acara Mbah Sahroni dengan tafsir berurutan dengan membaca Tafsir Murah Labib karya Imam Nawawi Al Bantani. File file ada di link ini  hasil kajian campuran antara KH Sahroni dan KH Imron Jamil Jombangsebagai mascot (kolom utama) blog ini. 

Yahh....memang ini diantara selingan bahkan kewajiban selama jalani roda kehidupan. Kami tak bisa tinggalkan walaupun via siara bahkan belum pernah temu secara langsung (talaqqi dalam bhs taklim adalah metode temu atau ngaji langsung dengan Guru atau Ustadz). Belum lagi yang utama saat di Solo dan Jogja ikuti majelis Bukhori serta majelis Riyadus Salihin di masjid Al Aman Sidoarum oleh alm KH Barmawi Mukri (dosen UIN Jogja bidang syariah) hingga beliau wafat, kami sudah pindah di Solo. Yang konsisten adalah masjid Gumuk dengan tafsir dan Bukhory setiap Jumat pagi, sementara Salafy di Jogja terhenti karena Ust Abu Saad wafat dadakkan di Pekanbaru sesaat akan berangkat ke Suriah misi kemanusiaan kepada korban perang saudara.

produk ponpes & radio  pitutur luhur yg lagi trend

Kami juga baru tahu bahwa KH Sahroni ini meski kealimannya terbukti, ternyata beliau tak punya pondok pesantren sehingga waktunya habis hanya untuk dinikmati masyarakat secara umum dan jamaah. Akan tetapi ini menjadi sokogurunya beliau dalam hal berdakwah yang juga beliau mantan pejuang dalam membela negara Indonesia. Silakan cek list entah you tube nya atau mp3 nya yang tersebar cukup banyak di mushola rapi kudus (radio rapi kudus). Waktu terus berputar bagai gelombang air laut, radio kami pun rusak dan kurang niat beli lagi munculah teknologi bluetooth vial mini salon (sound). Sebelum puasa tahun ini 2026, coba kami cari radio bluetooth dan dapat type SQR-2009 muncullah siaran pengajian yang didominasi radio Salafi. Muncul lagi radio Pitutur Luhur yang kebanyakan dominan pendengar warga Nahdiyin sambil ponpes Pitutur Luhur marketing obat obat herbal dengan nama Sahabat Ali sebangga penyangga ponpes sebagai bidang usaha. Sementara disini-- momen muharam atau suro rujukannya radio Salafy.

Kira kira seminggu lalu ada siaran di radio yang sama di bluetooth via model Robot (jenis lama), ada KH Jamaludin Ahmadi Tulungagung menjelaskan sekilas sejarah islam di nusantara dan beliau sebut nama Laweyan Solo hingga muncul tema ini. Karena sering ke Laweyan buat latihan pingpong di tempat yang jaraknya kurang lebih cuma 300 m dari makam Ki Ageng Nis yakni GOR Bolamas, menjadi dorongan untuk cari info lebih lanjut tentang siapa KH Jamaludin Ahmadi dan siaran siarannya. Hanya karena sebut nama Laweyan. Lalu isi ceramah nya resume nya berikut ini seputar Ki Ageng Nis.

Dengan peran seorang tokoh Ki Ageng Nis, yang ternyata putra Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo putra Ki Ageng Getas Pandhowo, putra Lembu Peteng yang jadi mantu Ki Ageng Tarub Purwodadi. Lembu Peteng putra ke-5 Brawijaya-5 menjadi murid Ki Ageng Tarub lalu dijadikan menantu menikahi putri Ki Ageng Tarub yang bernama Nawangsih. Lalu Ki Ageng Nis (Ngenis) punya putra Ki Ageng Pemanahan, lalu Ki Ageng pemanahan punya putra Sutowijoyo (Danang Sutowijoyo). Sutowijoyo akhirnya jadi anak angkat (murid) Joko Tingkir yang menguasai tanah Pajang Solo. Ini diantara isian ceramah KH Jamaludin Ahmadi yang kami rekam dan diputar berulang ulang. Dan dari sinilah kami penasaran sekali, kenapa ?. 

Yahh....masuk di akal lah, karena saat ini kami aktiv sejak 2022 di majelis nya para habaib yang juga dzuriyah Nabi yang ke 39/ 40 sementara Sunan Ampel yang secara berantai akan masuk jaringan nusantara juga merupakan dzuriyah ke-24. Nama lainnya Raden Rahmad, nama dzuriyah Nabi adalah Sayid Ali Rahmatullah, turunan Cempa (Cina) dan ayahnya Uzbekistan yang bernama Ibrahim As Samarkandhi, yang mashur di dunia Tarikh Islam. Lalu ada kebakaran TPA Mojosongo dengan nama TPA Putri Cempo, adakah hubungannya dengan Putri Cempa  yang asalnya Kamboja ?. Disitu memang ada makam tuan putri cempo.

makam putri cempo area TPA mojos-9 (detik.com)

Inilah kenapa kami menamakan modul puncak, sebab kami dari Jalur Jamsaren yang di dunia online banyak disebut alm Kyai Jamsari hingga alm Kyai Idris yang masyuhur dengan tariqoh Sadziliyah nya. Sementara saat ini kami aktif di amjelisnya habaib habaib yang ada di Solo, yang merupakan jalur sendiri serta dalam mini book Simtud Duror karya alm Habib Ali Al Yamani ada wirid wirid dengan sebut datuk datuknya serta Abdul Qadir Jailany serta Abul Hasan As Syadzily (guru utama jalur dari pendiri Jamsaren) yakni KH Idris. Kemudian KH Idris meneruskan Jamsaren dengan ambil menantu KH Abu Amar yang beristri-3 dan dari istri pertama muncul alm KH Ali Darokah Jamsaren dan Nyai Umul Kirom (Nirbitan) yang merupakan istri alm KH Abdusomad. Jadi alm KH Abdusomad adalah menantu ponpes Jamsaren yakni alm KH Abu Amar (menantu KH Idris). 

kiprah kyai abdusomad nirbitan (laduni.co.id)

Dengan argumen bahwa KH Idris di jalur keagamaan yang penuh hingga terlibat perang Diponegoro hingga ponpes nya disapu Belanda dan vakum lebih kurang 50 th. Lalu disambung KH Abu Amar yang punya gelar Raden Tedjo Tenoyo (otomatis dekat dengan birokrasi dan kraton). Sehingga nasab atau turunan Jamsaren tak perlu heran, ada yang turun dengan Abu Amar (dekat birokrasi) juga dekat dengan para kyai atau masyayeh (niru alm KH Idris). Sementara perjuangannya bisa NU bisa Al Islam (ambil jalan netral tak condong sana sini atau malah ikut tariqoh nya Kyai Idris yakni Sadzily), jika ada nama lain berarti memang baru dalam jalur Jamsaren. Jalur lain ini bisa karena alasan ekonomi, atau lintas politik yang lebih pragmatis (praktis) karena memang tuntutan sebuah kehidupan yang harus diisi perannya di segala bidang.  Insya Alloh Aqidah nya tetap Ahlusunah Wal Jamaah sementara sosialnya ?. Bahasa sekarang, mana yang bisa jadi akan menguntungkan ???

Wallohu A'lam